Mengasah Otak di Atas Papan, Pelatihan Catur Perdana SD Negeri 1 Tempursari
Sabtu pagi, 8 Agustus 2026, di SD Negeri 1 Tempursari berlangsung seperti biasanya. Dari halaman tengah terdengar tepukan nyaring bola voli yang bergantian melambung tinggi. Di sisi lain, sekelompok siswa berlari kesana-kemari mengejar bola sepak di bawah terik matahari pagi. Sementara di barat halaman, raket-raket bulu tangkis bersuit membelah udara dalam pertandingan-pertandingan santai antar teman. Kegiatan kelas minat dan bakat olahraga rutin itu berjalan semarak dan penuh keringat.
Namun, pagi itu ada sesuatu yang berbeda. Di tengah hingar-bingar aktivitas fisik yang memenuhi hampir seluruh sudut sekolah, ruang guru utama justru menyuguhkan suasana yang kontras. Untuk pertama kalinya, SD Negeri 1 Tempursari mengadakan pelatihan permainan catur sebagai program pendamping dalam kelas minat dan bakat. Kegiatan ini berlangsung terpisah sepenuhnya dari arena olahraga, menawarkan pilihan lain bagi para siswa yang ingin menyalurkan minat mereka melalui jalur yang lebih tenang dan strategis. Kegiatan ini mayoritas diikuti oleh siswa kelas 4, 5, dan 6.

Kegiatan yang dipandu oleh para bapak guru dan staf karyawan ini berlangsung dengan pendekatan yang sabar dan bertahap. Anak-anak diajari dari awal: mulai dari mengenali nama dan fungsi setiap bidak, memahami pola petak di papan, hingga merangkai aturan permainan secara utuh. Setiap penjelasan disampaikan dengan bahasa yang sederhana dan diselingi contoh-contoh langsung agar mudah dicerna. Sesekali terdengar tawa kecil ketika seorang siswa keliru menggerakkan bidak atau lupa bahwa raja tidak boleh melangkah sembarangan.
Memasuki sesi praktik, ruangan pun mulai terasa hidup dengan caranya sendiri. Para siswa langsung dipersilakan untuk bertanding melawan teman sebaya, melawan guru, maupun melawan staf pembimbing yang turut duduk di hadapan mereka. Bahkan, di sela-sela waktu, terjadi pula pertandingan antar guru dan karyawan yang ikut meramaikan suasana. Setiap langkah bidak diiringi dengan senyum, kening berkerut karena berpikir keras, serta tepuk tangan halus ketika sebuah strategi berhasil dieksekusi dengan apik. Tidak ada teriakan seperti di lapangan, melainkan bisik-bisik diskusi dan gumaman analisis yang justru menciptakan kehangatan tersendiri. Siswa belajar mengatur strategi di tengah keheningan.
Pelatihan catur perdana ini ternyata bukan sekadar ajang rekreasi otak. Lebih dari itu, sekolah memiliki tujuan mulia di balik diadakannya kegiatan ini. Melalui setiap permainan, anak-anak perlahan ditanamkan sikap sabar dalam menanti giliran, ketelitian dalam memeriksa setiap kemungkinan, serta kemampuan menyusun strategi secara matang. Mereka juga diajarkan untuk menjunjung tinggi sportivitas, baik saat menang maupun kalah, serta memupuk sikap pantang menyerah ketika posisi sedang terdesak. Tak kalah penting, dalam keheningan papan catur, mereka belajar mengolah mental dan menemukan ketenangan di tengah tekanan.
Hingga bel istirahat pertama berbunyi, sebagian siswa catur masih enggan beranjak dari tempat duduknya. Mereka asyik menghitung langkah berikutnya, sesekali mencoret-coret kertas kecil untuk mencatat strategi. Di luar, teman-teman mereka mulai beristirahat sambil menyeka keringat. Dua dunia yang berbeda berjalan beriringan dalam satu pagi yang sama, membuktikan bahwa di SD Negeri 1 Tempursari, setiap bakat menemukan jalannya masing-masing.
Pelatihan catur perdana ini pun ditutup dengan senyum puas dari para peserta dan pembimbing. Sebuah langkah kecil yang diharapkan menjadi awal dari tradisi baru, di mana olahraga otak mendapatkan tempat yang layak di samping olahraga tubuh. Dan ketika bel pulang akhirnya berbunyi, siswa-siswa itu meninggalkan ruangan dengan kepala tegak, membawa pengalaman berharga yang tidak akan mereka dapatkan dari lapangan mana pun.